Istana mengakui bahwa tatanan normal baru dipalsukan, dan anggota DPP menyerukan adaptasi besar-besaran dari kebiasaan baru tersebut.

Laporan Reporter Tribunnews.com Chaerul Umam-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Achmad Yurianto, Juru Bicara Manajemen Pemerintah melalui Covid-19, mengakui istilah “normal baru”, yang sering digunakan saat pandemi virus corona, adalah bahasa yang buruk. — Hal ini mendapat respon positif dari Rahmad Handoyo, anggota Panitia IX DPR RI dari Fraksi PDIP.

Baca: Buruknya kualitas komunikasi pemerintah pada masa pandemi diyakini akan menggerus kepercayaan masyarakat — -Menurut Rahmad, istilah “normal baru” sudah dijelaskan oleh masyarakat. biasanya.

Ia menyinggung hal tersebut dalam diskusi pada Sabtu (7/11/2020) bertajuk “Covid-19 dan Anomali Baru”. Masalah budaya baru telah dikonfirmasi. Ketika standar baru tidak benar dan menimbulkan euforia di masyarakat, menurut saya seharusnya standar baru itu, begitu ada car free day, semua orang akan buru-buru mencapnya.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk lebih memperkuat adaptasinya pada tanaman baru selama pandemi Covid-19.

Karena menurutnya kebiasaan menjaga jarak atau jarak badan adalah sulit dibersihkan dan selalu memakai tangan dan masker.

“Kita harus latihan untuk ini. Sekarang ini konferensi untuk pemerintah, tidak lelah memberi tahu pemerintah bahwa harus melakukan latihan besar-besaran,” katanya. – “Karena sejujurnya, budaya baru adalah budaya yang sangat asing. Dia berkata:” Untuk menjaga jarak, memakai topeng adalah masalah, karena kita tidak cukup peduli. “Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah Penanggulangan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan istilah” normal baru “yang sering digunakan selama pandemi ini adalah istilah yang buruk.

Baca: Sulit Dimengerti, Pemerintah Berubah” Istilah “normal baru” diubah menjadi kebiasaan baru Saleh Dawley (Jumat) (10/7/2020).

Leave a comment

adu ayam bali_s128.net login_s128.live