Rumah sakit PDP Covid-19 secara paksa mengangkat fenomena tubuh: tidak ada rumah sakit yang mau menemani pasien

TRIBUNNEWS.COM-Kasus-kasus mayat yang dikumpulkan secara paksa di bawah prosedur Covid-19 telah terjadi di banyak daerah. Sebagai contoh, di Makassar, keluarga pasien secara paksa mengambil mayat dari Rumah Sakit Makassar Dadi, Rabu (3/6/2020) karena mereka tidak ingin mengubur mayat sesuai dengan prosedur Covid-19. -Menurut Kompas.com, dalam video CCTV, 7 orang memasuki unit perawatan intensif dan segera mengambil mayatnya.

Mengenai beberapa kasus pemindahan paksa mayat dari keluarga positif PDP / Covid-19, Tribunnews.com meminta balasan dari Rumah Sakit Solomon University (UNS) pada 11 Maret. Covid Working Group Solo Juru Bicara Rumah Sakit PBB Tonang Dwi Ardyanto, Dr. Sp.PK. pada prinsipnya mengatakan bahwa rumah sakit tidak boleh mengubur orang yang meninggal di rumah sakit melalui prosedur Covid-19.

Baca: Prosedur pemindaian tubuh yang benar Covid-19-popok tubuh memakai popok popok

Tonang memberi contoh, dari Maret 2020 hingga Mei 2020, 196 pasien meninggal di Rumah Sakit UNS Solo.

Di antara mereka, 42 pasien dimakamkan sesuai dengan prosedur Covid-19.

“Oleh karena itu, hanya sekitar 21% (terkubur menurut prosedur Covid-19).”

“Ini membuktikan bahwa rumah sakit tidak harus atau sewenang-wenang. Itu terlihat sebagai bersedia untuk mengkoordinasikan orang mati, tidak harus dari Covid, bersedia Atau mencari untung, “kata Tonang dalam wawancara dengan Zoom, (Kamis, 18/6/2020)

Situasinya tidak mudah

Leave a comment

adu ayam bali_s128.net login_s128.live