Gereja menerapkan spesifikasi perjanjian kesehatan karena tidak ingin menjadi cluster Covid-19 yang baru

Menurut reporter Tribunnews.com, pelaksanaan perjanjian sanitasi selama Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda-Jakarta Tribunnews.com berlaku tidak hanya untuk tempat-tempat umum seperti pusat komersial atau kantor, tetapi juga ke gereja-gereja sebagai tempat ibadah. Bertekad untuk membantu pemerintah memutus rantai komunikasi Covid-19.

Gereja Katolik sangat mendukung Kementerian Agama melalui Konferensi Episkopal Indonesia (KWI), karena kegiatan keagamaan dan tempat ibadah adalah isi dari perjanjian sanitasi model yang menerapkan disiplin, seperti mencuci tangan, memakai topeng dan menjaga jarak.

Pastor Augustine H. Vibobo, Sekretaris Eksekutif Komite Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI, mengatakan bahwa Gereja Katolik sangat serius tentang kesopanan dan disiplin dalam menanggapi pertanyaan. – Ibadah sangat serius dan hati-hati. — Dia fokus pada persiapan ibadah, tempat ibadah, pendidikan masyarakat, fasilitas dan infrastruktur, prosedur internal dan perjanjian Ibadat.

Baca: Pada rapat umum baru, para pemain PSIS Semarang langsung lulus ujian Covid -19

Pastor Hary tidak ingin kegiatan keagamaan dan tempat ibadah menjadi organisasi komunikasi Covid-19 yang baru.

“Oleh karena itu, 57% dari 37 paroki di 34 provinsi secara nasional memiliki” ibadat fisik yang tidak terorganisir, yaitu di gereja-gereja, tetapi mereka masih disiarkan langsung dan masih online. ” “Pastor Hary mengatakan dalam sebuah percakapan dengan Satuan Tugas Media Nasional Jakarta. Jumat, (19/6/2020) .

Dia menambahkan bahwa orang lain telah melakukan kebaktian yang diperiksa oleh paroki.

Leave a comment

adu ayam bali_s128.net login_s128.live