Ahli epidemiologi menyarankan pemerintah untuk menilai efektivitas tes cepat

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Epidemiolog Pandu Riono menyarankan agar Kemenkes juga menilai kembali efektifitas rapid test.

Sejauh ini, sebagaimana kita ketahui, penerapan deteksi cepat adalah deteksi antibodi.

Pemerintah sekarang diharuskan mengevaluasi apakah pengujian antigen cepat lebih cocok untuk menentukan tingkat virus dalam tubuh?

“Kualitas dan kualitas rapid test harus dievaluasi terlebih dahulu oleh Dirjen Dinkes atau instansi terkait. Skrining memiliki keunggulan karena dapat mendeteksi antibodi, sehingga dapat dilakukan rapid test yang lebih baik,” kata Pandu Riono. Tribunnews.com, Rabu (8 Juli 2020). Peralatan pengujian cepat: pengendalian harga-setelah pengujian cepat tunduk pada kendala biaya, diharapkan penggunaan metode PCR untuk pengujian swab atau pengujian virus juga dapat ditentukan di masa mendatang. Saat ini harganya masih mencapai jutaan rupiah. Seperti kita ketahui bersama, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan peraturan baru, batasan tarif biaya tes cepat virus corona (covid-19) adalah Rp 150.000. HK.02.02 / I / 2875/2020 yang ditandatangani oleh Bambang Wibowo, Direktur Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dan berlaku efektif pada tanggal 6 Juli 2020. Adanya regulasi tersebut dapat menghambat komersialisasi atau pengetesan cepat karena kebutuhan perjalanan, banyak orang membutuhkannya untuk dijadikan komoditas. Pedagang, “kata Pan Du

Leave a comment

adu ayam bali_s128.net login_s128.live