Pada saat yang sama di 9 lokasi, bea cukai dan karantina menghapuskan total ekspor 28.000 ton produk pertanian

TRIBUNNEWS.COM-Tarif dan pajak cukai yang dikombinasikan dengan karantina pertanian terus mendorong perusahaan kecil dan menengah di sektor pangan dan meningkatkan ekspor pertanian. Bekerja sama dengan Balai Karantina Pertanian Makassar, Bea Cukai Makassar telah melaksanakan salah satu tugas penyelenggaraan pengeluaran ekspor hasil pertanian di pelabuhan Soekarno Hatta pada Jumat (01/05). — Arifah Aliyah, Kepala Dinas Bea Cukai Makassar, Eva yang akan hadir, mengatakan acara ini digelar bersamaan di tiga gerai ekspor utama, yakni Semarang, Jakarta, dan Beravan. Lampang, Makassar, Denpasar, Balikpapan, Tanjung Pruek dan Surabaya. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berpartisipasi langsung dalam pertemuan tersebut. Ada 43 negara tujuan ekspor, antara lain Italia, China, dan Uni Emirat Arab. Jumlah total produk adalah 166, beratnya 28.000 ton, dan nilai ekonomi adalah 753,6 miliar batu.

“Rincian keseluruhan termasuk 108.000 kilogram kopi, pisang, nanas tidak melebihi 560.000 kilogram dan paprika tidak melebihi 14.000 kilogram,” kata Eva. -Pada saat yang sama, tiga produk non-pertanian bersertifikat dan produk karantina pertanian dilepaskan, yaitu kayu olahan, terpentin, dan kemenyan.

Eva memperkenalkan bea cukai sebagai agen resmi untuk mengawasi dan mempromosikan kegiatan impor dan ekspor Indonesia, dan selalu siap untuk mendukung gerakan yang dapat meningkatkan ekspor, terutama di Sulawesi Selatan. Eva berharap: “Saya berharap liberalisasi ekspor pertanian selama epidemi ini akan mendorong pengusaha untuk terus berinovasi dan meningkatkan ekspor mereka.” -Bea Cukai bekerja sama dengan Biro Karantina Pertanian Makassar untuk melindungi sektor pangan nasional, pada bulan April 2004 Pada hari Kamis, tanggal 23, media yang terkait dengan penyakit hewan dan penyakit tanaman juga dimusnahkan sebagai tindak lanjut dari operasi karantina pertanian di Makassar.

Mengenai SOP dalam pandemi Covid-19, Eva Arifah Aliyah secara langsung berpartisipasi dalam penghancuran 7 hewan pembawa. Dan 14 jenis media phytosanitary dari Malaysia dan Singapura. Ini termasuk telur, dendeng, sosis, buah-buahan, sayuran, bibit tanaman, beras, bawang, dan telur bidara, dan tidak ada dokumen karantina dari negara asal. Eva berkata: “Perusakan ini dilakukan untuk menghindari dampak kesehatan masyarakat dan untuk melindungi organisme berbahaya di sektor makanan.” (*)

Leave a comment

adu ayam bali_s128.net login_s128.live